Saatnya Bertransformasi: Menerapkan Pola Makan Sehat

Posted: July 20, 2010 in Kisah

Awal mulainya saya depresi karena celana jeans favorit tak bisa dikancing! Betapa syok dan runtuhnya dunia ini bagi saya. Menangis dan hanya bisa menangis menyesali kegemukan diri yang tak berkesudahan sejak saya remaja. Yang membuat saya minder dan terluka akibat komentar orang-orang tanpa hati yang fokus ke tubuh saya bila kita bersua (itulah sebabnya saya memilih tidak mengomentari fisik teman-teman ketika bersua, kecuali yakin dia orangnya tak sensitif).

“Kok gemukan deh lo?”

“Mbok kurusin,”

“Kayaknya Laura tambah gede deh.”

whuaaaa, mau ngumpet di kamar dweeeh kalau dah mendengar komentar-komentar miring itu. Well hey.. apa kalian tak punya hati? Apa kalian mau dikomentarin serupa? Sampai-sampai saya menghindar ketemu beberapa orang yang saya tahu persis bermulut tajam.

Well, sebetulnya saya saja yang sensitif. Kalau saya percaya diri tentu takkan terganggu dengan komentar perih tersebut. Saya ingat suatu ketika sedang bermain ke kantor Majalah Paras di Cibubur, seorang teman mengomentari kegemukan saya, wah… rasanya… malu banget. Sampai saya nggak mau ngumpul di lantai atas, tempat pemotretan koleksi pakaian butik teman saya, karena takut dikomentari di depan ‘umat’. Mau ditaruh di mana muka ini.

Selesai acara pemotretan, saya sengaja tak pulang, memilih makan siang bersama si fotografer, Dewi Nurcahyani yang sangat menginspirasi saya karena pede menjadi dirinya sendiri. Saya utarakan keluhan saya soal komentar gemuk itu. Dia bilang,”Kamu tuh, udah nulis buku banyak, masih aja nggak pede. Kalau dikatain gemuk, jawab aja: tapi tetep cantik kan? pasti yang ngatain berbalik salut.”

Kata-kata itu menguasai pikiran saya, iya ya. Hingga suatu ketika saya praktekkan tatkala seorang teman lagi-lagi berkomentar saya tambah gemuk, saya hajar dengan,”Yang penting cantik kan?” meski dengan hati tak ikhlas. Ternyata ucapan Mba Dewi tepat, teman saya malah berbalik salut,”Weeeesss… bagus-bagus… lo pede.” katanya.

Ditambah komentar orangtua (karena mereka peduli) bahwa tubuh saya sudah kebesaran. Terus terang saya terganggu dengan pandangan mereka yang seolah ‘menelanjangi’ tubuh saya. Merasa terganggu karena saya pun tak nyaman dengan keadaan tubuh sendiri. Merasa begah, perut menonjol, sesak napas, keringat sepertinya lebih mengeluarkan aroma tidak sedap (karena lipatan lemak), tidak leluasa berjalan karena paha saling beradu, baju dan celana terasa mengetat, dan ketidaknyamanan lainnya. Singkatnya: saya depresi.

Bagaimana ini? padahal sejak Februari 2010 saya sudah mengganti makanan pokok dengan beras merah, saya makan dengan porsi ‘ideal’, artinya nggak maruk-maruk amat, dan saya sudah olahraga. Namun berbulan-bulan saya lalui itu, tetap gemuk itu betah menggerogoti tubuh. Sampai saya belajar NLP untuk menguruskan badan, tetap saja masih ada kendala.

Hingga suatu ketika saya berkenalan dengan Ririe melalui twitter @jeungririe, seorang diet motivator. Mulailah saya mencurahkan isi hati melalui twit-an dan imel. Ternyata eh ternyata Ririe memiliki background yang sama dengan saya. Dan Subhanallahnya, dia berhasil menurunkan beratnya dari 78kg menjadi 47kg!

Kami pun ketemuan di Citos. Ririe mengajak saya makan siang di Japanesse resto dan mengajarkan saya makanan apa saja yang boleh dan tidak dalam berdiet. Kami juga ke supermarket untuk mengobservasi produk-produk yang bisa dan tidak untuk berdiet.

“Jangan terkecoh dengan tulisan low fat, karena belum tentu aman. Harus pandai-pandai membaca kandungan nutrisi ya,” celoteh jeung purple, begitulah blog Ririe di wordpress. 

Tapi satu hal yang perlu diluruskan adalah: tujuan berdiet. Selama tujuan berdiet masih karena faktor luar (capek dikatain gemuk, demi menyenangkan ortu, supaya dipuji orang, dan bla-bla-bla lainnya), maka prosesnya akan berat. Ririe meminta saya ‘meluruskan’ niat, aga keinginan diet itu datang dari dalam diri.

Aku, bulan Mei 2010

Aku, bulan Mei 2010 saat pelesiran ke Pulau Tidung

Itulah yang saya lakukan. Meski saat mendengarkan paparan Ririe soal diet (pola makan sehat) rasanya beraaaaaaat banget, saya membulatkan tekad. Yes, I wanna do it!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s