Pola Makan Sehat? Beeuuurrraaaat Reeeek!

Posted: July 20, 2010 in Kisah

Wah, benar-benar perjuangan. Sewaktu saya ‘ngedate’  sama Ririe di Citos dan dia memaparkan pengalaman dietnya selama ini, benar-benar membuat kepala saya berdenyut nggak karuan.

“Kalau mau cepet, jangan makan gorengan, kurangin garam dan gula, pasti cepet turun.” katanya

Memikirkan harus sering masak sendiri (di luar masakan rumah) sudah membuat saya sempoyongan mikirin alangkah repotnyah! Buset, apa gw bisa yak?

“Kalaupun terpaksa makan makanan rumah yang digoreng, nggak apa, tapi jangan pake kulitnya ya, trus kalau sayur jangan sama kuahnya.” lanjut perempuan yang kini luanggsiing sing ityu. 

“Hmm.. kalau gulai?” tanya saya.

“Jangan santan doooong, kolesterol. Gimana mau kurus?” Ririe menjawab tajam.

Kami mengunyah shabu-shabu sambil meneruskan obrolan. Hati saya benar-benar bergejolak. Bisa nggak ya? selama ini gw selalu gagal kalau diet.

“Gw pernah 61kg loh Rie, itu berat ge terkurus, tahun 2006 lalu. Tapi pakai obat cina.”

Ririe menggeleng,”Jangan pakai obat! efeknya bahaya buat tubuh.”

Saya mengangguk,”Iya, obat itu malah pernah ditarik dari peredaran karena dianggap bahaya. Sekitar setahun lebih gw makan obat itu. Beneran nafsu makan hilang. Tapi gw nggak mau ketergantungan, takut bahaya buat tubuh.

“Ya!” Ririe menatap saya,”Cara alami saja.”

Saya tercenung. Olahan tahu ini begitu lezatnya.

“Cukup kenyang kan?” tanya Ririe lagi.

Saya tersenyum dan mengangguk. Kepala rasanya kliyengan,”Dalam pola makan sehat, rasa dan kenyang bukanlah hal utama, tapi gizi terpenuhi,” celoteh Ririe mengisi ruang kepala saya dengan echo yang begitu dahsyat. Alamaaaaaak, apa gw bisa yaaaa? heeeellpppp….

Ini nggak boleh, itu nggak boleh. Makan apa dwooong?

“Masak sayur nggak pakai gula atau garam,” katanya lagi, membuat saya terbelalak.

“Trus???”

“Kasih lemon biar ada rasa. Kalau mau diet yang murah ya begitu. Kalau mau pakai produk serba diet kayak gula, kecap, juga bisa, tapi kan butuh biaya tambahan.”

Dunia seakan berputar di hadapan saya. Begitu ‘mahal’ harga pengorbanan yang harus saya bayar. Tapi mempertahankan bobot 75kg seperti ini pun, saya tak kuasa. Rasanya ingin menjerit, Nggak adil!!! Banyak orang makan seenak udelnya tapi nggak gemuk-gemuk, kenapa gw harus menderita kayak gini? Rintih saya dalam hati.

“Kamu pasti bisa!” Ririe menguatkan saya

Inilah bobot 75 kg itu!

Inilah bobot 75 kg itu!

Comments
  1. zulfa says:

    baca blog mbak, saya jadi termotivasi utk diet juga…suerrrr, berat yaaaa…

    stlh melahirkan dan selesai memberi ASI anak saya, berat saya langsung melonjak, susah bener nuruninnya, kemarin2 sempat pengen beli obat2an gitu, tapi masih mikir2 juga (saya masih pengen hamil lagi, takut berpengaruh). Membaca diet yang mbak jalani keliatannya bakalan aman2 saja dengan program kehamilan saya….capek bawa badan 60kg, padahal sebelum hamil BB saya berkisar diangka 47kg an, hikq……….

    • laurakhalida says:

      jangan pake obat mba, saya dulu pernah pake obat dan sukses sampai 61 kg, tapi nggak mau lagi, karena takut efeknya. Kemarin berat saya sampai 75 kg, Alhamdulillah dah turun 7 kg dalam 2 bulan. Berat? pastiiiiiiiii, tapi cemanggaaat lah

  2. zulfa says:

    yupz……….semangat!!!

  3. zulfa says:

    dulu abis melahirkan dan masih memberi ASI, beratku masih stabil mbak, malah kaki ku kecillll…tapi stlh lepas ASI, whohohoho……mungkin karena anak udah gede, aktivitas ngurus anak gak begitu berat lagi, terlena dehhhhh……

    mulai sekarang mau mencoba pola hidup sehat…pelan2 saja ya…tapi tetap fokus…:)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s